Hadapi Wereng dan Virus Kerdil : Alumni IPB Subang Latih 2500 Petani

KOTASUBANG.com, Subang – Dalam dua musim terakhir petani di Subang banyak mengalami kerugian akibat gagal panen dan penurunan produksi padi. Kegagalan panen tersebut disebabkan oleh serangan hama wereng dan virus kerdil hampa yang ditularkan oleh wereng. Kegagalan panen dan penurunan produksi ini dialami oleh sentra sentra produksi padi disubang meliputi kecamatan Cipunagara, Compreng, Pagaden, Pagaden barat, Binong, Tambak Dahan, Patok Beusi dan hampir merata diseluruh kecamatan di pantura.

Untuk membantu para petani yang sedang merugi, para alumni Institut Pertanian Bogor kabupaten Subang melakukan pendampingan serta pelatihan perbanyakan agens hayati untuk mengatasi wereng dan virus kerdil hampa.

Agens hayati diberikan secara gratis dan petani diajarkan metode memperbanyaknya agar bisa dilakukan kapanpun. Selain pembagian agens hayati, diberikan juga pemaparan mengenai hama dan penyakit padi yang menjadi penyebab kegagalan panen.

Ada dua jenis agens hayati yang diberikan yaitu Lecanicillium untuk membunuh wereng & PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan virus kerdil hampa yang dibawa oleh wereng.

Pelatihan dan pendampingan ini terjalin atas kerjasama Himpunan Alumni IPB, Carrier and Development Assictance (CDA) IPB serta program KKNT IPB. Pelatihan dilakukan kepada 50 kelompok tani di kecamatan Cipunagara dengan melibatkan 2,500 petani.

“CDA IPB berkomitmen membantu dan mendampingi setiap kegiatan pengabdian Alumni IPB kepada lingkungannya,”┬áIis Syarifah yang merupakan direktur CDA IPB.

Ketua HA IPB, Agus Masykur Rosyadi berharap dengan acara pelatihan ini membuat petani lebih mengenal karakteristik hama dan penyakit padi serta lebih siap menghadapinya dimusim tanam berikutnya.

Sementara itu Ahmad Syifa Sidiq ketua pelaksana program pelatihan ini mengungkapkan bahwa pelatihan ini merupakan salah satu ikhtiar mencari jalan keluar dari permasalahan wereng dan virus kerdil hampa di Subang.

“Semoga ini bisa mempertahankan Subang sebagai tulang punggung produksi beras nasional,” ujar Syifa.