Kang Dedi Mulyadi : Urang Subang mah Keren!

KOTASUBANG.com, Subang – Warga Subang harus berbangga, karena memiliki wilayah yang strategis dan memiliki topografi yang lengkap mulai dari pegunungan, pedataran hingga lautan. Hal itu diungkapkan Dedi Mulyadi ketika menerima silaturahmi pegiat #SubangBARU, Senin lalu (17/7/17) di Gedung Kembar, Purwakarta. Namun yang lebih keren menurut Dedi adalah jati diri masyarakat Subang sendiri. Sebagai orang yang lahir dan pernah tinggal di Subang dirinya tahu betul bagaimana sifat orang Subang sesungguhnya.

“Urang Subang itu gotong royong, guyub, kreatif punya tradisi pedesaan dan tradisi berkesenian yang tak pernah mati. Punya kesenian khas yang keren seperti Sisingaan, yang nanggap Wayang Golek di Subang juga tak akan pernah berhenti, karena sudah menjadi budaya ” ujarnya.

“Orang Subang tak selalu bergantung sama pemimpin, Subang punya Civil Society. Karena punya Civil Society maka cukup dihidupkan pedesaannya. Ini keren, tak selalu bergantung sama pemerintah. Saya sebagai orang Subang mengalami sendiri, dahulu bikin jalan biasa gotong royong, bikin pager makam tinggal iuran. Pokoknya top, guyub, jauh tina papaseaan. Orang Subang mah tungkul kana pacul tanggah kana sadapeun,” lanjutnya.

Dedi Mulyadi diapit oleh pegiat #SubangBARU Yayan Suryanata dan Dewi Nirmalasari

Jati diri orang Subang inilah yang harus tetap dijaga dan dihidupkan kembali kata Dedi. Apalagi Subang akan menghadapi gempuran budaya luar seiring dengan dibangunnya Pelabuhan Patimban tahun depan. Kalau tidak di jaga kultur orang Subang bisa tergerus oleh pendatang.

Hal senada juga diungkapkan pegiat #SubangBARU Dewi Nirmalasari yang sangat tertarik dengan pemikiran Dedi Mulyadi tentang Subang. Menurutnya, masyarakat dan pemerintah harus benar-bener paham akan jati diri Subang, apalagi mengadapi dibangunnya Pelabuhan Patimban.

“Hal ini perlu untuk didiskusikan bersama,” kata Dewi.

Pegiat Budaya Nandang Kusnandar juga mengamini ungkapan Dewi Nirmasari untuk menyelenggarakan diskusi terkait jati diri urang Subang dalam menghadapi perkembangan Subang ke depan. Menurutnya, perspektif budaya berkaitan dengan jatidiri akan lebih bijak mengakomodir tanggapan berbagai pihak terkait. Bukanlah hal sederhana untuk memformulasikan apa yang dinamakan dengan jatidiri budaya Subang.

Pegiat budaya, Nandang Kusnandar, S.Sn (kiri) bersama seniman Toleat Wa Amar Parmas (berbaju pangsi)

“Pondasi jatidiri budaya akan disokong tiga pola pilar pemikiran masyarakat pendukung kebudayaannya. Tiga pilar penyokong jatidiri tersebut meliputi pola pikir, pola sikap dan pola tindak yang harus menjadi landasan langkah strategis untuk sesegera mungkin diformulasikan. Barulah akan muncul landasan pemikiran, sikap dan tindakan berkaitan dengan jatidiri itu sendiri,” ungkap Nandang.

Nandang mengungkapkan, semangat sinergitas untuk menwujudkan pemahaman berkaitan dengan jatidiri budaya Subang, akan sangat tergantung pada manifestasi uraian dari tiga penyokong pilar tersebut. Inventarisasi nilai-nilai yang menjadi orientasi dari aktifitas budaya merupakan bagian penting tindakan mengokohkan tonggak manifestasi jatidiri budaya Subang, berbasis korelasinya dengan dinamisasi kebudayaan. Upaya lain untuk melengkapai langkah tersebut adalah aspek redefinisi dan aktualisasi budaya. Sehingga diharapkan, pemahaman masyarakat berkaitan dengan jatidiri budaya Subang bukan lagi merupakan pemahaman tradisi lisan yang parsial, tapi menjadi dasar kekuatan pemahaman bersama yang diaplikasikan kedalam tradisi tulisan, sehingga menjadi pedoman global bagi seluruh masyarakat pendukung kebudayaannya.