Hanya Bekerja Dengan Menyebrangkan Warga, Endi Mampu Menghidupi 3 Anaknya

menyeberangkan-orang

Foto : Imanuel Nicolas Manafe

Sinar matahari siang itu cukup menyengat. Panasnya pun terasa membakar kulit. Namun, Endi Suhenda tampak terpengaruh dengan teriknya sinar matahari tersebut.

Pria berusia 60 tahun itu, terlihat semangat memberhentikan laju kendaraan. Lalu ia langsung menyeberangkan warga yang ingin melintas jalan tersebut.

Endi, panggilan akrabnya, adalah pria tua yang sehari-hari melakukan pekerjaan menyeberangkan warga di Pasar Sukamandi, Jalan Ciasem, Subang, Jawa Barat.

Ditemui dengan Wartakotalive.com, Jumat (2/8/2013) siang, Endi terlihat menggunakan kemeja biru muda yang kebesaran dibalut rompi Polantas berwarna kuning. Celananya berwarna biru tua, dan mengenakan sepatu pantofel hitam yang sudah dekil, dan topi pet. Layaknya petugas Dinas Perhubungan atau Polantas, Endi tampak gagah dan bangga mengenakannya.

“Saya seperti pak Polisi yang di pos itu ya?” seloroh Endi, sambil memegang bendera kecil, berbentuk segitiga berwarna kuning dengan tulisan Polisi berwarna Merah itu.

Endi memang nampaknya cukup bangga dengan profesinya tersebut. Apalagi seragam hasil pemberian seorang pengendara yang tidak dikenalnya itu, menyerupai petugas-petugas kedinasan.

Namun, ketika ditanya apa alasan ia berprofesi sebagai penyeberang jalan, Endi hanya mengangkat jari telunjuk dan menunjukkan ke langit.

“Semua karena di atas, awalnya saya cuma mau bantu aja, bukan nyari uang dari ini,” kata pria yang rambut dan kumisnya mulai memutih itu.

Endi memang mengaku awalnya tidak mencari penghasilan dari yang dilakukannya tersebut. Namun, justru, kini, ia memenuhi kebutuhan dirinya dan tiga anaknya dengan pekerjaan tersebut.

Sehari-hari ia menyeberangkan warga yang ingin melintas jalan tersebut. Pasalnya, kendaraan yang melintas cukup padat, bahkan banyak kendaraan besar seperti bus dan truk.

Untuk itu, Endi berinisiatif menjadi petugas yang menyeberangkan warga ketika akan melintas. Berbekal bendera kecil yang dipasang di sebilah bambu, ia memberhentikan kendaraan yang melintas. Kemudian, warga pun langsung melintas.

“30 tahun lalu, saya lagi nggak ada kerjaan, sebelumnya saya kuli bangunan. Lalu saat itu saaya bantuin warga yang ingin nyeberang di jalan ini, saya berhentikan mobil yang melintas, dan warga bisa melintas. Tapi tahu-tahu ada ibu-ibu yang ngasih saya uang karena sudah saya seberangkan, padahal saya nggak minta,” kata Endi yang kerutan di wajahnya mulai nampak itu.

Begitu juga pada keesokan harinya, ketika ia menyeberangkan warga, beberapa orang kembali memberikan uang. Endi pun mulai berpikir untuk mencari nafkah hanya dengan menyeberangkan warga.

“Tapi saya kerja begini ikhlas lillahi ta’ala, nggak berharap uang juga, saya cuma berpikir, yang saya lakukan adalah sebuah pahala, makanya nggak pernah minta uang,” katanya.

Kini, lanjut Endi, sehari-hari, ia bisa mendapatkan Rp 30.000 hingga Rp 40.000 hanya dengan menyeberangkan warga. Bahkan, jika saat menjelang Lebaran ia bisa mengantongi hingga Rp 100.000.

“Berkah buat orang kecil kaya saya ya pas menjelang Lebaran gini,” katanya.

Di jalan tersebut, terdapat Pasar Sukamandi yang cukup ramai dikunjungi warga. Hampir setiap 5 menit, warga melintas di jalan tersebut untuk ke pasar maupun ke luar pasar. Keberadaan Endi pun cukup membantu warga yang kesulitan menyeberang jalan.

Pasalnya, di jalan itu, kendaraan cukup padat. Bahkan, berbagai kendaraan besar seperti bus dan truk cukup mendominasi jalur itu. Bagi yang ingin melintas memang cukup mengerikan. Bahkan, pernah beberapa tahun lalu ada yang tertabrak hingga tewas ketika melintas.

Warga Jalan Pintu Dharma, Kelurahan Sukamandi Jaya, Kecamatan Ciasem, Subang, Jawa Barat itu, mengaku kini ia sudah merasa payah. Pasalnya ia semakin tua, matanya pun semakin tak awas. Begitu juga tubuhnya yang kini kulitnya mulai menghitam, sudah semakin sering sakit-sakitan.

Ia hanya menjalankan pekerjaannya itu dari pukul 06.00 hingga pukul 13.00. Dimana banyak anak sekolah dan warga yang ke pasar, menyeberangi jalan tersebut.

Selepas menjalankan pekerjaannya itu ia kembali ke rumahnya untuk berkumpul dengan tiga anaknya. Menurut pria lulusan SD itu, hanya tinggal satu satu putrinya saja, Annisa (13) yang kini masih duduk di kelas 3 SMP. Anak bungsunya itu cukup membanggakan dirinya. Pasalnya, kerap meraih rangking 3 besar di kelasnya.

“Dia paling pinter matematika,” katanya.

Sedangkan, dua anaknya, Junaedi (20) dan Kurnia (19), telah lulus SMK. Kini mereka sedang mencari pekerjan untuk membantu kebutuhan sehari-hari keluarganya.

“Kalau istri saya sudah meninggal 10 tahun lalu karena sakit. Sekarang tinggal sama anak-anak di rumah, saya cuma minta dikasih kesehatan buat saya dan anak-anak saya,” jelasnya. (Wartakotalive)