Musim Mudik, Petani Subang Tinggalkan Sawah Buka Lapak Pinggir Jalan

imagesLebaran tinggal hitung jari, tentu saja bagi pemudik ini sangat menyenangkan karena dapat berkumpul dengan keluarga besar. Tetapi, ada hal yang menyebalkan ketika perjalanan mudik harus menemui macet, belum kondisi jalan berlubang, rasanya ingin teriak.

Situasi macet parah tersebut dapat disiasati dengan menikmati setiap daerah yang dilewati pada jalur mudik. Ini bagi pemudik yang menggunakan transportasi darat seperti kendaraan pribadi.

Untuk pemudik yang memulai perjalanan dari Jakarta dengan jalur pantura tidak usah risau. Sebab, setiap daerah yang dilewati memiliki khas tersendiri dan bisa dijadikan ajang wisata.

Kalau melalui jalur pantura, tentu harus melewati tol Cikampek, keluar akan berada di Cikopo. Di sini, titik kemacetan akan ditemui, mulai dari Simpang Jomin, Subang, Indramayu, Cirebon, Brebes, dan Tegal.

Di Subang, Jawa Barat, di sisi kanan kiri jalan akan ditemui banyak warung dadakan. Di sana, warga setempat memanfaatkan arus mudik untuk berjualan beraneka macam makanan dan minuman bagi pengguna jalan yang ingin melepaskan lelah dalam perjalanan.

Soal harga tidak jadi permasalahan, karena terjangkau dengan kantong. Minuman yang ditawarkan berbagai macam, seperti es kelapa muda, minuman ringan (soft drink) atau kopi, teh.

Untuk makanan, macam-macam tetapi lebih banyak yang cepat saji. Namun, cepat saji disini bukan junk food, melainkan mie instan atau makanan berat juga ada semisal gado-gado, soto ayam, nasi uduk juga ada.

Seperti, Sani (43) perempuan yang sehari-hari bermata pencaharian sebagai petani ini, mulai H-5 menbuka warung dadakan. Dia menjual gado-gado, soto ayam dengan harga Rp 8 ribu, minuman ringan rata-rata dibandrol Rp 5 ribu, tetapi kopi, es teh manis, teh manis, es jeruk dipatok tarif Rp 3 ribu.

Harga tersebut tentu lumayan untuk sekedar mengisi perut yang teriak-teriak karena lapar. Sedangkan, rasa dari masakan Sani tentu tergantung selera lidah masing-masing.

“Saya buka warung dadakan seperti ini sudah dua tahun. Lumayan keuntungannya buat nambah-nambah lebaran,” ucap Sani kepada merdeka.com, di Subang Jawa Barat, Kamis (25/7).

Ia mengaku modal yang dikeluarkan untuk berjualan selama 5 hari sebesar Rp 2,5 juta, dengan keuntungan Rp 2 juta. Hal itu, diungkapkan berdasarkan pengalaman tahun lalu berjualan.

“Untuk jualan ini saya keluarkan Rp 2,5 juta, itu untuk beli bahan-bahan jualan, termos, kompor, belum bayar listrik Rp 350 ribu selama jualan, terus bangun warung ya Rp 700 ribu lah,” jelasnya.

Menurutnya, pengendara sepeda motor lebih banyak berhenti untuk mampir ke warungnya dibanding pengemudi mobil. “Banyakan yang pakai sepeda motor ya mbak, biasanya minum kopi,” imbuh wanita berperawakan tambun ini.

Lain lagi cerita Sutarji, pemilik warung dadakan di Pamanukan, Jawa Barat yang jaraknya sekitar 1 KM dari Subang. Pria berusian 56 tahun ini mengaku buka warung karena tergiur oleh perolehan keuntungan dari teman-temannya yang lebih dulu berjualan selama bertahun-tahun saat arus mudik.

Sutarji membuka warung mulai H-5 dengan jualan mie instan rebus, goreng, minuman ringan dengan modal Rp 2 juta. Tetapi, ia tidak berjualan, melainkan anaknya perempuan yang akan berdagang.

“Nanti yang jualan anak saya mbak, saya cuma bangunkan warung saja, lumayan lihat teman-teman buka warung kayak gini, untungnya bisa satu juta,” ucap Sutarji yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani kepada merdeka.com.

Pemudik yang menjalankan puasa tidak usah risau, karena sepanjang jalur pantura banyak sekali penjajak kuliner. Tentu saja dari rumah makan kelas mahal hingga murah meriah.(Merdeka)