Wow! Subang Punya Pasar Tradisional Bersih, Yuk Belanja….

KOTASUBANG.com, Subang – Pasar tradisional biasanya identik dengan suasana becek dan kotor. Belum lagi sesaknya pengunjung karena penataan ruangnya yang sempit. Eittss…. tapi tunggu dulu, coba sempatkan belanja ke pasar Rakyat Subang di belakang Terminal, Sukamelang ada suasana berbeda di sana. Pasar rakyat ini tak identik dengan becek dan kotor, meski belum sempurna, suasananya cukup bersih karena ada petugas yang membersihkannya secara berkala.

Selain itu lorong antar deretan los pedagangnya juga dibuat cukup luas sehingga pengunjung leluasa untuk berbelanja, meskipun memang masih cukup padat pada jam-jam tertentu terutama dini hari. Bangunannya pun dibuat cukup tinggi, sehingga sirkulasi udara tetap terjaga berbeda dengan kebanyakan pasar tradisional saat ini yang biasanya sumpek. Para pedagang ditempatkan pada los-los tertentu, ada los buah, sayuran, ikan dan daging, sehingga pengunjung lebih mudah mencari barang.

Hendra, salah seorang pengunjung pasar mengaku gembira, karena di Subang ada pasar tradisional yang ditata dengan baik.

“Bagus ya, cukup nyaman belanja di sini, ga sempit dan cukup bersih, ” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Rita pengunjung asal Dawuan, dirinya mengaku puas berbelanja di sana.

“Saya baru tahu ada pasar ini, ternyata nyaman juga tempatnya dan buat ibu-ibu barangnya juga lengkap,” ungkapnya.

Harapan Pedagang

Endang, salah seorang pedagang di pasar Rakyat Subang ini mengaku tidak keberatan direlokasi ke tempat baru tersebut, namun demikian dirinya dan para pedagang lainnya mengeluh karena masih sepinya pengunjung yang berbelanja ke sana. Saat ini omzet mereka masih anjlok hingga 70 persen dibandingkan dengan tempat semula.

“Kami berharap pemerintah segera melakukan langkah-langkah agar bisa menggiring para pengunjung untuk berbelanja di sana,” katanya.

Ia juga mengeluhkan masih adanya pedagang yang berjualan komoditi sayuran di bekas pasar panjang saat ini. Baik itu dini hari maupun siang hari di kios-kios di sekitar eks pasar panjang.

“Meskipun mereka berjualan di kios milik pribadinya di pasar panjang, pemerintah seharusnya tetap tegas melarang mereka berjualan sayuran atau basahan di sana. Demikian juga kios-kios di Pujasera, yang tadinya tidak jualan sayur, setelah kami direlokasi, sekarang di Pujasera malah ada beberapa kios yang ikutan jualan sayur memanfaatkan situasi ini. Kalau tetep seperti ini ya pembeli lebih milih ke sana karena lebih dekat,” keluhnya.

Hal lain yang menjadi keluhan pedagang adalah adanya pasar kaget setiap minggu di GOR yang juga menjual komoditas sayuran, buah dan daging. Mereka berharap agar pasar kaget tersebut ditertibkan atau ditutup, sehingga pembeli akan mengarah ke pasar baru ini.

Masalah lainnya adalah aksesibilitas menuju pasar ini. Saat ini masih jarang angkutan kota yang menuju ke sana.

“Saat ini para pelanggan mengeluhkan karena masih jarangnya angkot ke sini. Janjinya sih nanti semua angkot akan diarahkan untuk melewati pasar ini. Namun sampai saat ini belum juga tuh. Kalau terus seperti ini ya pasar akan terus sepi,” ungkap Dede, pedagang lainnya. Ia berharap pemerintah segera melakukan rekayasa jalur angkot agar melalui pasar ini.

Para pedagang juga berharap pemerintah bisa “mewajibkan” para PNS untuk berbelanja ke sana, sehingga menjadi contoh bagi para pembeli lain untuk berkunjung kesana.

 

Ekonom dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sutaatmadaja (STIESA), Gugyh Susandy mengatakan sarana dan prasarana yang tersedia di pasar sudah cukup baik termasuk kebersihannya, namun demikian masih ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya, pemetaan blok tematik jenis produk masih belum optimal karena ketakutan sepi di beberapa bagian titik tertentu, jumlah kios dan los yang disediakan, belum sepenuhnya tepat dengan pedagang yang direlokasi sehingga bermunculan jongko di sekitarnya, los yang disediakan oleh pedagang masih ditambahkan ornamen tambahan seperti kayu-kayu sehingga kelihatan menjadi kurang eye catching,  sebagian ruang antar deret los di dalam pasar masih dipakai untuk menyimpan barang yang tidak tertampung dalam los sehingga akan mempersempit jalan dan belum adanya sinergi rantai nilai antara pasar ini dengan pasar di sebelahnya (Riantama).

“Namun yang terpenting bagaimana pemerintah bisa mendatangkn pembeli ke pasar ini seperti yang diharapkan pedagang. Pasar itu sejatinya tentang orang, sedangkan tempat fisik merupakan penunjang dari pasar. Mengatur dan menertibkan pasar harus lebih fokus pada pendekatan orang baik dari sisi konsumen maupun produsen,” pungkasnya.

 

 

Berita Terkait: