Menikmati Gurih dan Renyahnya Belut Goreng di Kukulu, Subang

belut subangBicara tentang kuliner, Subang memang tidak ada habisnya, mulai dari etong bakar dipantura sampai sup ikan yang terkenal di Subang selatan. Di Subang bagian tengah, para pecinta kuliner tentunya sudah tidak asing dengan kuliner belut goreng. Menu yang satu ini bisa Anda nikmati di warung Ibu Atmi yang berlokasi di kampung Kukulu 2, Desa Balimbing, Kecamatan Pagaden Barat.

Setiap hari warung sederhana milik ibu Atmi atau yang lebih dikenal dengan Emih Emuk ini selalu dipadati para penggemar belut goreng. Tengok saja warung Emih Emuk ketika jam makan siang, jejeran kendaraan para pegawai dan para pejabat silih berganti terparkir di depan warung tersebut. Kadang para pengunjung harus rela antri untuk mencicipi belut goreng ibu Emuk karena tempatnya yang sangat terbatas.

Wajar bila belut goreng Emih Emuk banyak penggemarnya, karena belut goreng buatannya memiliki cita rasanya yang khas. Hal ini dikarenakan belut yang menjadi bahan bakunya merupakan belut yang diambil langsung dari alam bukan belut hasil ternak. Menurut Emih Emuk, cita rasa belut hasil tangkapan langsung dari alam ini rasanya jauh lebih gurih dibanding belut hasil ternak.

“Belut yang berasal dari alam atau hasil tangkapan, rasanya pasti lebih gurih daripada belut hasil ternak. Kalau belut ternak, jika di goreng warnanya malah suka hitam seperti gosong,” Kata Emih Emuk.

Emih emuk memperoleh belut dari para pemasok yang berasal dari Majalengka dan Kuningan. Menurut Emih Emuk para pemasok belut ini datangnya tidak tentu. Untuk menghindari kosongnya pasokan Emih Emuk biasanya selalu membeli belut jika para pemasok datang, kemudian menampungnya dalam bak penampungan.

“Emih biasanya dapat kiriman dari daerah Majalengka dan Kuningan, kalau dari daerah Subang mah, ga tau kenapa sudah tidak pernah ada yang memasok lagi,” Jelas Emih Emuk.

Setiap hari 70 Kg belut selalu ludes terjual, 30 Kg terjual di warungnya, sedangkan sisanya dijual oleh 2 orang karyawannya secara berkeliling hingga ke Pabuaran. Belut goreng yang paling digemari adalah belut yang berukuran jari kelingking orang dewasa. Belut dengan ukuran tersebut biasanya digoreng garing dan sangat renyah jika dimakan. Namun Emih Emuk juga menyediakan belut goreng dengan ukuran lebih besar. Biasanya Emih Emuk menggoreng setengah matang belut berukuran besar ini yang ternyata banyak juga yang menggemarinya.

Emih emuk sudah memulai usahanya lebih dari 10 tahun yang lalu, awalnya dia hanya membuka warung nasi biasa dan belut goreng adalah salah satu menu yang dia jual. Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata belut goreng buatan Emih Emuk banyak yang menggemari.

Dulu Emih Emuk hanya memasak 2 atau 3 kg belut perhari namun kini Emih Emuk mampu menjual sampai 70 Kg belut perhari. Sebenarnya selain menjual belut goreng warung Emih Emuk juga menyediakan menu masakan sunda lainnya, namun karena yang datang ke sana lebih banyak yang memesan belut goreng maka kini warung Emih Emuk lebih banyak menyediakan belut goreng ketimbang menu lainnya.

Untuk bisa menikmati belut goreng di warung Emih Emuk, kita cukup merogoh kocek sebesar Rp. 14.000,- untuk sepiring belut goreng dan nasi sepuasnya. Belut goreng ini sangat nikmat disantap dengan sambal uleg dadakan khas Emih Emuk ditambah lalapan.

Kini Emih Emuk sudah bisa menikmati hasil dari jerih payahnya. Dari usahanya berjualan belut goreng, Emih Emuk sudah bisa menunaikan ibadah haji tahun ini. (Wisnu Setia Ramdani / @Wisnu_Triples)