Subang Dalam Mata Lensa (Bingkai Fotografi Subang)

Subang Dalam Mata Lensa (Bingkai Fotografi Subang)

8 1119

“Ditengah sebuah hutan, tiba-tiba Dayang Sumbi terkejut melihat tanda bekas luka di kepala Sangkuriang. Ia tersadar, bahwa seorang lelaki yang akan ia nikahi ternyata anaknya sendiri….” 

Adegan tersebut kembali diperagakan oleh dua orang model di depan puluhan fotografer Subang yang tergabung dalam Bingkai Fotografi Subang.  Komunitas ini mencoba memvisualisasikan kembali adegan demi adegan legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi melalui karya foto.  Dua orang model dengan balutan busana yang anggun dipersiapkan untuk memerankan kedua tokoh legenda ini.  

 

Hunting foto bertema legenda Subang yang dilakukan oleh Bingkai Fotografi Subang (BFS) kali ini bukan hunting foto biasa, kali ini kegiatan BFS diliput oleh team MATA LENSA, sebuah acara tentang fotografi yang ditayangkan stasiun televisi ANTV setiap selasa malam. Hunting foto sekaligus syuting ini dilaksanakan pada tanggal 18 – 20 Januari 2013 dan sudah di tayangkan dalam acara MATA LENSA episode 19 pada tanggal 29 Januari lalu, Video bisa dilihat disini.

 Selain Sangkuriang dan Dayang Sumbi, Bingkai Fotografi Subang juga mencoba mengangkat tokoh lain dalam legenda tersebut yaitu Dewi Srenggawati. Menurut sebuah sumber, Dewi Srenggawati adalah ibunda dari Dayang Sumbi, beliau adalah seorang Dewi yang kemudian dikutuk menjadi seekor babi hutan dan diusir dari Kayangan karena telah berbuat kesalahan. Dewi Srenggawati kemudian lebih dikenal dengan bagong Wayungyang. Seorang model dalam balutan busana layaknya seorang dewi memerankan tokoh ini dengan sempurna.

Dalam sesi yang lain, BFS mencoba mengangkat sejarah Subang. Dalam sesi ini seorang model memerankan seorang noni Belanda yang sedang berjalan-jalan bersama kudanya di perkebunan teh. Hal ini untuk menggambarkan Subang tempo dulu yang merupakan wilayah perkebunan milik Belanda. Kemudian noni Belanda tersebut juga berpose di Rumah sejarah Lanud Suryadarma, Kalijati. Kondisi rumah yang bergaya kolonial ditambah dengan sisi sejarahnya sangat kuat, berhasil menggambarkan Subang tempo dulu.

 Selanjutnya BFS mengangkat sesi foto dengan Batik Subang. BFS bermaksud mengenalkan kepada seluruh masyarakat  Indonesia bahwa Subang juga memiliki motif batik yang khas. Dua orang model berpose menggunakan busana dengan beberapa motif batik khas Subang, diantaranya motif ganasan yang terinspirasi dari buah nanas. Lokasi yang digunakan untuk sesi ini adalah di pesawahan Kampung Mande, Sagalaherang dan hutan bambu di hutan kota Ranggawulung.

Tema yang diangkat dalam sesi selanjutnya adalah Sexy in the Forest. Disesi terakhir ini dua orang model cantik berpose di perkebunan karet. Jejeran pohon karet menambah artistik hasil foto. Kemudian masih dengan tema yang sama para model kemudian berpose dibawah keindahan curug di Capolaga Adventure Camp.

Acara MATA LENSA sesi “SUBANG” ini ternyata mendapat respon yang positif dari para penggemar fotografi di seluruh Indonesia setelah penayangannya. Mereka sangat terkesan dengan hasil foto para fotografer Subang. Hal ini cukup membanggakan, bahwa ternyata komunitas foto di Subang tidak kalah dengan komunitas dari kota besar sekalipun.

Di sisi lain acara ini juga bisa menjadi sarana promosi pariwisata Kabupaten Subang sesuai dengan misi BFS yaitu mengeksplorasi dan mempromosikan segala potensi keindahan alam dan budaya Subang. Dalam sebuah situs jejaring sosial, seseorang yang berasal dari Jawa Timur menulis : “…hasil jepretannya kmaren di mata lensa buagus buagus,membuat orang pengen berkunjung ke subang :) …”

Semoga semakin banyak lagi insan kreatif di Subang, sehingga bisa mengenalkan Subang ke seluruh tanah air….

 

8 COMMENTS

Leave a Reply