Kembang Gadung, Lagu Sakral di Subang

KOTASUBANG.com, Subang – Kembang Gadung adalah nama sebuah lagu tradisional Sunda yang sering dinyanyikan para ¬sinden dalam berbagai pertunjukan. Dilihat dari segi bahasa, kembang artinya bunga, gadung adalah sejenis ubi-ubian beracun merupakan tanaman langka yang hanyadan tidak bisa dimakan langsung. Ubinya baru bisa dimakan setelah racunnya dihilangkan setelah melalui proses pencucian dan perendaman. Tanaman ini termasuk tanaman merambat yang  tumbuh di musim hujan. Berkaitan dengan kata gadung, dalam bahasa Sunda dikenal ungkapan: siga jalma weureu gadung, artinya seperti orang mabuk. Pohonnya merambat ke pohon lain yang tinggi seperti pohon nangka, petai, dan durian. Ubinya bisa dimakan orang, tetapi memasaknya harus ekstra hati-hati karena rasanya pahit mengandung racun bisa mabuk (Sunda: weureu gadung). Bunga gadung tidak seindah bunga angkrek atau bunga melati, baunya tidak harum, tidak pernah dijadikan karangan bunga untuk menghiasi tempat  resepsi.

Syair lagu Nama atau judul lagu Kembang Gadung,  sama sekali tidak ada hubungannya dengan isi lirik, karena isi lirik tidak mencerminkan fisik bunga gadung dan tidak pula menceritakan realitas bunga tersebut.. Lagu tersebut isinya bertemakan tentang pmemujian kepada Tuhan Yang Maha Esa, atau  pengmenghormatian kepada nenek moyang, mengajak melestarikan seni budaya,  dan menghibur penonton. Lagu ini biasanya sering digunakan sebagai lagu pembuka suatu pergelaran kesenian Wayang Golek, Kiliningan, Bajidoran, Bangreng, Ketuk Tilu, dan sebagainya. Di beberapa tempat dan oleh sebagian kelompok kesenian, lagu tersebut dianggap sebagai lagu sakral yang difungsikan sebagai do’a untuk mengawali pertunjukan. Misalnya dalam ronggeng nayub di daerah Purwadadi, Kabupaten Subang, sebelum lagu Kembang Gadung dilantunkan, terlebih dahulu dukun membaca mantra sambil membakar kemenyan. Sementara itu, sesaji yang terdiri atas berbagai makanan, minuman dan macam-macam bunga terasa menambah suasana magis. Pada waktu itulah lagu Kembang Gadung mulai dinyanyikan. Dalam ritus Ketuk Tilu Mapag Hujan, di Sirap dan di Kampung Tanjung, Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang, lagu tersebut juga dinyanyikan paling awal sebagai lagu persembahan.

Tanaman Gadung (Wikipedia)

Umbi Gadung (Wikipedia)

Bagi masyarakat Kabupaten Subang, lagu tersebut mempunyai kisah tersendiri. Diceritakan, bahwa pada masa penjajahan Belanda, ada seorang pengikut Bagusrangin, Lapidin namanya. Ia berjuang melawan penjajahan dan dalam perjuangannya, ia bersembunyi di hulu sungai Cigadung. Di sepanjang  sungai tersebut tumbuh tanaman gadung, merambat ke berbagai pohon. Di balik rambatan tanaman itulah ia bersembunyi. Tanaman tersebut menginspirasinya untuk membuat lagu yang kemudian diberi judul lagu Kembang Gadung. Kisah lain menyebutkan, bahwa Lapidin adalah seorang perampok dan penggemar Ketuk Tilu. Hasil rampokannya senantiasa dibagikan kepada rakyat miskin. Suatu saat ia dikhianati salah seorang temannya dan dilaporkan kepada Belanda. Karena ia dianggap penjahat yang selalu meresahkan masyarakat, ia kemudian dibunuh. Dalam keadaan sakaratul maot, ia minta dinyanyikan lagu Kembang Gadung yang oleh sebagian orang dianggap sebagai lagu ciptaannya. Lagu tersebut kemudian dilantunkan dan Lapidin pun meninggal. (baca juga : Menghidupkan Kembali Ki Lapidin, Legenda Subang yang Terlupakan)

Lagu tersebut kemudian menjadi mitos dan disakralkan, bahkan sampai kini, masyarakat setempat enggan meninggalkan kebiasaan tersebut, seolah-olah merasa pamali apabila lagu tersebut tidak dinyanyikan terlebih dahulu. Hanya saja penyajiannya tidak lagi dalam bentuk ritual, akan tetapi hanya sebagai nyanyian biasa.
Perkembangan berikutnya, beberapa seniman mengaransir lagu tersebut dengan komposisi yang baru (wanda anyar). Misalnya Mang Koko, mengaransir lagu Kembang Gadung dengan menggunakan iringan kacapi, rebab, kendang, dan goong serta cara menyanyikannya tidak seperti halnya sinden wayang golek. Demikian pula beberapa mahasiswa ASTI/STSI Bandung, mengaransir lagu tersebut untuk kepentingan ujian akhirnya.
Berikut adalah notasi dan rumpaka lagu Kembang Gadung:

Kembang Gadung
Laras : Degung,  2 = Tugu

0    0    5 4    5    .    5 1    5 4    3
Bis mi    lah         bu bu ka la    gu

.    0 3    4 3    4 5    .  4    3    234    5
mu    ji su    kur     ka     Hyang A   gung

.    0    5 4    5    .    5 1    5 4    3
su mem bah            ka sang   karu   hun

.    0 3    4 3    4 5    . 54    3     234    5
su    mujud ka     Ba    tara    A      gung

.    0 4    3 3    3    .  2    1 5    1 2    2
Ne    da wi    di    ne    da     a    mit

.    0 2    151    3    .  4    4    3       4 3
ka     Gusti Nu     Ma    ha     Su    ci

.    0 4    3 3    3    .  2    1 5    1 2    2
mu    gi di    a    ping     di     ja     ring

.    0 2    151    3    .  4    4    3        4 3
ne    da pang rak    sa     pang    rik     sa

3-  2       2   2   2   2   2   1
Sa reng ka  pa ra ka ru hun

2      3-    3-     3-   3-   3-      1     2 3-   3-  3-   2 1
nyang ga  keun  i    eu  pang  bak ti    duh Gus  ti

2  1     5 4   5     1     2    1    512     2
u lah  ba   de          hi   ri   deng   ki

3-       2     3               4 3
duh     a     lah……………….

4      3        4     3      4    3   4    3
kem bang ga dung nu ka ha tur
4          3   3       3    3   4       3       4 5
nyang ga keun i  eu pang bak   ti

2       1     5  5   4    3         2134    5
pang  bak  ti ti  seu  weu  si      wi
Notasi      : Pandi Upandi, S. Kar., M. sn.
Rumpaka: Anis Sujana, dkk., Laporan Penelitian
Pertumbuhan dan Perkembangan Ketuk Tilu di
Jawa Barat,Akademi Seni Tari Indonesia
(ASTI) Bandung, 1996.

Isi lirik lagu Kembang Gadung pada dasarnya mengandung empat hal:, yakni; (1). Memuji kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam hal ini Allah Subhanahu Wata’ala. (2) . Mendengar lagu Kembang Gadung mengingatkan agar kita semua sadar atas Mensyukuri  kenikmatan dari Allah Subhanahu Wata’ala yang patut disukuri. (3). Memberi  penghormatan kepada para leluhur, roh nenek moyang yang disebut (“karuhun)”. Bentuk penghormatan yang diajarkan adalah mendo’akan kepada karuhun, semoga di alam kubur bahagia, dan semoga di akhirat kelak masuk surga. (4). Lagu Kembang Gadung dipersembahkan kepada para penonton, sekaligus mengajak agar ikut memelihara seni budaya yang bernilai tinggi. . Berikut beberapa syair lagu tersebut.

1.    Bismilah bubuka lagu
muji sukur ka Hyang Agung
sumembah ka sang karuhun
sumujud ka Batara Agung
neda widi neda amit
ka Gusti Nu Maha Suci
mugi diaping dijaring
neda pangraksa pangriksa

sareng ka para karuhun
nyanggakeun ieu pangbakti duh Gusti
ulah bade hiri dengki
duh alah . . .
kembang gadung nu kahatur
nyanggakeun ieu pangbakti
pangbakti ti seuweu-siwi

2.    Kembang gadung ruruntuyan
estu endah koneng enay
meulit dina tatangkalan
bijil cucuk dina areuy
anu bisa jadi tameng
ngajaga kasalametan

Gelarna mahluk ka dunya
anging kersa Maha Suci
dijaga rawuh diraksa
umumna sadaya mahluk
nu jadi ciptaana-Na
geura prak sarujud sukur
tasyakur ka Maha Agung
ibadah ka Maha Esa
Penulis: Pandi Upandi, S,Kar., M.Sn./Toto Amsar Suanda
Keyword: Jawa Barat; Subang; Wayang Golek; Kiliningan; Ketuk Tilu; Lapidin; Kembang Gadung

Siapa pencipta lagu Kembang Gadung, dan kapan diciptakannya? Data tertulis untuk menjawab pertanyaan ini sulit didapat. Di daerah pantura Jawa Barat sekitar Kabupaten Subang, masyarakatnya menganggap bahwa lagu Kembang Gadung sebagai lagu penghormatan kepada para leluhur. Pada tahun 1950-an lagu Kembang Gadung selalu disajikan di awal pertunjukan kesenian ronggeng nayub di desa-desa yang berada di Kabupaten Subang khususnya di Kecamatan Purwadadi.  Penyajiannya dikemas secara ritual. Urutan pertunjukan dimulai pukul 20.00 yang di awali oleh gending tatalu lebih kurang selama satu jam bersamaan dengan datangnya para tamu undangan. Selanjutnya menyajikan lagu Kembang Gadung secara ritual, setelah itu baru penyajian tari-tarian babak perbabak yang dilakukan oleh penonton (laki-laki) bersama ronggeng sampai menjelang subuh.

Cara menyajikan lagu Kembang Gadung dalam roggeng nayub dilengkapi sesaji berupa makanan dan kelengkapan upacara seperti kendi berisi air bening, dawegan (kelapa muda), bubur merah, bubur putih, pedupan, dan rujakan yang didominasi oleh bunga rampe.  Benda-benda tersebut ditaruh pada sehelai tikar yang ada di  pakalangan (tempat menari), sebagai simbol menyambut kedatangan roh nenek moyang. Seorang dukun duduk bersila menghadap sesaji didampingi dua orang ronggeng duduk timpuh. Dukun membaca mantra-mantra, mulutnya kumat-kamit tidak terdengar, kepala tunduk, mata terpejam sambil membakar kemenyan. Asap kemenyan yang mengepul pekat menyebar ke seluruh balandongan beraroma bau kemenyan. Pada waktu itulah lagu Kembang Gadung disajikan. Tabuhan gamelan terdengar sayup-sayup, suara rebab menyayat hati, kawih ronggeng terdengar lirih, mendukung suasana hening, memberikan kesan roh nenek moyang datang hadir di tempat itu.
Selain disajikan pada kesenian ronggeng nayub, lagu Kembang Gadung disajikan pula pada kesenian bajidoran dan wayang golek. Masyarakat setempat enggan meninggalkan kebiasaan para pendahulunya, seolah-olah merasa  pamali apabila lagu Kembang Gadung tidak disajikan, hanya saja penyajiannya tidak lagi bentuk ritual, tetapi cenderung sebagai hiburan (presentasi estetis) yang mengutamakan keindahan suara sinden.

Perkembangan berikutnya ada beberapa seniman yang mengaransir lagu Kembang Gadung semata-mata mengutamakan keindahan lagu. Mang Koko seorang pencipta lagu (komponis) dari Bandung pada tahun 1970-an mengaransir lagu Kembang Gadung menggunakan iringan kacapi, rebab, kendang, dan goong yang oleh Mang Koko disebut kacapian untuk mengiringi kawih wanda anyar. Mang Koko sebagai pencipta lagu tidak menyajikan seperti halnya sinden-sinden pada wayang golek yang longgar senggolnya serta tanpa alok, akan tetapi mengaransir lagu Kembang Gadung  membatasi melodi serta dinyanyikan oleh sinden dan alok. Dengan cara demikian terasa lebih estetik, sehingga lagu kembang gadung larut menjadi kawih gaya Mang Kokoan. Juru kawih  yang sering menyanyikannya adalah Ida Rosida (putri Mang Koko) dan Atang Warsita   atau Eka Gandara, mereka adalah alumnus Kokar Bandung awal tahun 1970-an.

Selain Mang Koko, ada lagi yang mengaransir lagu Kembang Gadung yaitu Barlen Sutisna, mahasiswa STSI Bandung asal Subang dalam rangka resital karawitan program S-1 tahun 1990, ia menggunakan iringan gamelan degung ditambah beberapa waditra lain, komposisinya berupa gending tanpa kawih. Barlen Sutisna menggunakan iringan gamelan degung ditambah beberapa waditra lain. Barlen mengadopsi, menstilisasi dan mendistorsi lagu Kembang Gadung dengan teknik perubahan irama (tempo) dari irama cepat ke irama lambat, atau sebaliknya, dan perubahan warna bunyi (timbre) yang saling berganti antara waditra yang satu dengan waditra lainnya. Ketika Barlen mengadopsi lagu Kembang Gadung, maka alur lagu tersebut masih utuh. Namun, ketika menstilisasi atau mendistorsi lagu tersebut, maka alur lagunya sudah berubah, walaupun  demikian kesan lagu Kembang Gadungnya masih ada. Barlen sebagai penata karawitan sangat terampil dalam mengolah dinamika (perubahan), sehingga lagu menjadi dinamis, tidak monoton, dan  menarik untuk dinikmati.

Pada tahun 2003, di desa Cidadap Kecamatan Pagaden, Kabupaten Subang, Cucup Cahripin menyajikan lagu Kembang Gadung menggunakan ansambel celempungan yang terdiri dari kacapi siter, kendang, goong, dan rebab, mengiringi kawih oleh sinden Cicih Cangkurileung, tidak lagi berbentuk penyajian ritual, akan tetapi sudah presentasi estetis yang dikemas dengan judul Wangkis Adumanis. Kegiatan tersebut dalam rangka resital  Program S-2 Institut Seni Indonesia Surakarta.

Masih tahun 2003, lagu Kembang Gadung disajikan dalam kesenian bajidoran grup Giler Kameumeut pimpinan sinden Enung Uar Suarsih dari desa Sukamelang Kabupaten Subang. Pertunjukannya dalam rangka resepsi, baik pernikahan maupun khitanan. Di sana lagu Kembang Gadung diaransir menggunakan gamelan selap laras pelog mengiringi kawih  gaya bajidoran, ciri khasnya dominan pada pukulan kendang yang sangat dinamis. Lirik lagu  diubah dengan penambahan kata-kata.  Sebagai contoh mestinya “ngahaturkeun Kembang Gadung” menjadi “ngahaturkeun pa lurah Junaedi anu bageur Kembang Gadung geura pa Camat Pagaden” Jadi, lirik itu sudah menyimpang jauh dari arti semula. Semua lirik yang diucapkan sinden ketika menyanyi selalu ditambah dengan menyebut nama orang, jabatan, tempat tinggal, pekerjaan, dan malah cenderung promosi. Namun, atas kelincahan dan kuatnya penguasaan irama, maka sinden tidak pernah ketinggalan irama dalam menyanyi. Padahal irama lagu lebih lambat dari biasanya serta “dikacaukan” oleh bunyi kendang yang dinamis sebagai ciri khas kendang bajidoran. Selama lagu Kembang Gadung disajikan tidak ada sesaji, tidak ada dukun, yang ada adalah sinden sekitar 13 orang duduk timpuh berjajar horizontal di depan nayaga menghadap penonton, menari sambil duduk. Umumnya sinden-sinden tersebut masih muda belia, berpakaian kebaya, rias wajah cantik, yang memang sudah dirancang agar indah dipandang oleh penonton.

Perkembangan berikutnya lagu Kembang Gadung tidak hanya disajikan di daerah Subang dan sekitarnya, tetapi setelah diaransemen oleh seorang juru gambang grup Giri Harja 3 bernama Ari, maka lagu Kembang Gadung disajikan di Bandung, atau daerah lain dalam pertunjukan wayang golek oleh dalang Asep Sunandar Sunarya. Aransemennya terbilang unik, kesannya sangat dinamis, menggunakan gamelan selap garap wanda anyar dalam laras degung dan laras mataraman. Juru sinden yang menyajikan lagu Kembang Gadung ini adalah Masyuning asal Sukabumi, dan Nunung Nurmalasari asal Subang. (disparbud.jabarprov.go.id)